Prajurit Elang
Senin, 16 Mei 2016
Selasa, 21 April 2015
JOKOWII BUkan Orang Biasa
Lautan manusia itu saya pandangi dari atas jembatan penyeberangan orang yang ada di depan Plaza Indonesia. Saya tertegun menyaksikan pemandangan yang ada di depan. Saya terkesima melihat ribuan manusia tumpah ruah di sekitar Bunderan Hotel Indonesia. Ada yang asyik bermain-main air, duduk di pinggiran jalan, atau berdiri sambil jingkrak-jingkrak untuk menikmati alunan musik dari panggung. Sedangkan ribuan orang lainnya tampak berjalan kaki menuju arah Monas dan sebaliknya. Raut wajah mereka menggambarkan kegembiraan.
“Jokowi memang edan. Idenya dahsyat sekali,” ucap saya dalam hati sambil diam berdiri di atas jembatan. Saya angkat topi atas kesuksesan Joko Widodo untuk menggelar sesuatu yang berbeda pada hari ulang tahun DKI Jakarta pada Sabtu, 22 Juni 2013. Gubernur DKI Jakarta tersebut menggelar Malam Muda-Mudi di sepanjang Jalan MH Thamrin dengan membebaskan jalan dari kendaraan bermotor sejak pukul 18.00 sampai 24.00 WIB. Sekitar satu juta orang pun memadati jalan utama tersebut sampai menjelang tengah malam.
Jakarta benar-benar larut dalam pesta. Delapan panggung berdiri kokoh mulai Monas sampai Bunderan HI dengan menghadirkan aneka hiburan. Para pedagang kaki lima juga ikut menikmati keuntungan besar. Dan, yang pasti, Malam Muda-Mudi ini adalah milik semua lapisan masyarakat. Tua-muda dan kaya-miskin bercampur dalam satu kemeriahan. Dari gaya berpakaian dan gadget keluaran terbaru yang mereka bawa, mudah ditebak kalau ada begitu banyak masyarakat dari kelas atas yang ikut turun ke jalan pada malam yang sangat cerah ini.
Ini adalah pesta rakyat yang sangat sukses. Walau Jokowi mengaku meniru Malam Muda-Mudi pada jaman Gubernur Ali Sadikin, orang-orang tetap ingat kalau ini adalah sebuah karya sang Gubernur yang baru sekitar delapan bulan menjabat itu.
Uniknya, saya juga tidak menemukan satupun foto Jokowi-Ahok di poster, papan reklame, atau spanduk ucapan selamat ulang Tahun Jakarta di jalan-jalan yang saya lewati. Padahal, kalau di daerah lain, foto kepala daerah mereka pasti ikut mejeng di papan reklame atau spanduk milik instansi pemerintah yang dipasang di sudut-sudut jalan. Bagi saya, ini baru tindakan yang tepat karena tanpa memamerkan wajahnya pun, Jokowi sudah menjadi Gubernur paling terkenal di Indonesia. Yah, Jokowi sangat cerdas menunjukkan reputasinya sebagai kepala daerah yang tidak biasa-biasa saja.
Semoga, pesta rakyat seperti ini terus ada di Ibu Kota.
“Jokowi memang edan. Idenya dahsyat sekali,” ucap saya dalam hati sambil diam berdiri di atas jembatan. Saya angkat topi atas kesuksesan Joko Widodo untuk menggelar sesuatu yang berbeda pada hari ulang tahun DKI Jakarta pada Sabtu, 22 Juni 2013. Gubernur DKI Jakarta tersebut menggelar Malam Muda-Mudi di sepanjang Jalan MH Thamrin dengan membebaskan jalan dari kendaraan bermotor sejak pukul 18.00 sampai 24.00 WIB. Sekitar satu juta orang pun memadati jalan utama tersebut sampai menjelang tengah malam.
Jakarta benar-benar larut dalam pesta. Delapan panggung berdiri kokoh mulai Monas sampai Bunderan HI dengan menghadirkan aneka hiburan. Para pedagang kaki lima juga ikut menikmati keuntungan besar. Dan, yang pasti, Malam Muda-Mudi ini adalah milik semua lapisan masyarakat. Tua-muda dan kaya-miskin bercampur dalam satu kemeriahan. Dari gaya berpakaian dan gadget keluaran terbaru yang mereka bawa, mudah ditebak kalau ada begitu banyak masyarakat dari kelas atas yang ikut turun ke jalan pada malam yang sangat cerah ini.
Ini adalah pesta rakyat yang sangat sukses. Walau Jokowi mengaku meniru Malam Muda-Mudi pada jaman Gubernur Ali Sadikin, orang-orang tetap ingat kalau ini adalah sebuah karya sang Gubernur yang baru sekitar delapan bulan menjabat itu.
Uniknya, saya juga tidak menemukan satupun foto Jokowi-Ahok di poster, papan reklame, atau spanduk ucapan selamat ulang Tahun Jakarta di jalan-jalan yang saya lewati. Padahal, kalau di daerah lain, foto kepala daerah mereka pasti ikut mejeng di papan reklame atau spanduk milik instansi pemerintah yang dipasang di sudut-sudut jalan. Bagi saya, ini baru tindakan yang tepat karena tanpa memamerkan wajahnya pun, Jokowi sudah menjadi Gubernur paling terkenal di Indonesia. Yah, Jokowi sangat cerdas menunjukkan reputasinya sebagai kepala daerah yang tidak biasa-biasa saja.
Semoga, pesta rakyat seperti ini terus ada di Ibu Kota.
Sabtu, 25 Oktober 2014
Wartawan
Suatu hari, tim penyusun Uji Kompetensi Wartawan mendatangi Rosihan Anwar, wartawan senior yang telah dipanggil Sang Pecipta pada April 2011. Kepada sang wartawan empat jaman itu, tim penyusun bermaksud meminta masukan mengenai uji kompetensi yang rencananya bakal wajib diikuti oleh semua wartawan Indonesia. Tanggapan Rosihan membuat kaget tim yang diberikan mandat untuk menemuinya. "Melihat cara berjalan saja, saya sudah tahu apakah orang tersebut punya bakat menjadi wartawan," tegas Rosihan.
Pada hari yang lain, tim penyusun menghadap pemilik Jawa Pos, Dahlan Iskan. Tanggapan wartawan yang kini menjadi Menteri BUMN tersebut tidak kalah mengejutkan. "Biarkan saya bicara dengannya selama sepuluh menit, maka saya bisa memastikan apakah orang tersebut mampu menjadi wartawan atau tidak."
Orang ketiga yang ditemui adalah Jakob Oetama, pemilik Kompas Gramedia. Nah, masukan dari wartawan yang kini masih menjabat Pemimpun Umum Kompas pada usia 82 tahun itu, juga di luar perkiraan tim penyusun Uji Kompetensi Wartawan. “Saya bisa mengetahui seseorang punya bakat menjadi wartawan hanya dari riwayat hidup yang ia tulis,” kata Jakob.
Terakhir, tim penyusun mendatangi Surya Paloh. Komentar Pemilik Media Group tersebut tidak kalah menarik. "Saya bukan wartawan. Tapi, kalau diminta untuk mencari wartawan, saya jagonya," kata pemilik Metro TV dan Media Indonesia itu.
Priyambodo, Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), menceritakan kisah-kisah di atas dalam pembukaan Uji Kompetensi Wartawan di Metro TV, akhir pekan lalu. Ada sekitar 25 wartawan yang ikut, termasuk saya. Selain beberapa wartawan dari Metro TV, ada sejumlah wartawan lain dari Media Indonesia, Lampung Post, Metrotvnews.com, dan dua perwakilan dari koran Salam Papua, yang ikut dalam uji kompetensi ini.”Keempat tokoh pers tersebut kami datangi untuk meminta masukan mengenai Uji Kompetensi Wartawan, ketika baru dalam tahap perumusan,” kata Priyambodo, alumni International Institute for Journalism (IIJ), Berlin, Jerman (1995) yang sejak 1990 menjadi wartawan Kantor Berita ANTARA.
Uji Kompetensi Wartawan berlangsung selama dua hari, dari pagi sampai malam. Sejak awal, para penguji yang terdiri dari enam wartawan senior, menekankan kalau acara ini bukan pelatihan, ajang diskusi, atau simulasi. Ini adalah ujian bagi kami untuk mengetahui apakah memang mampu menjadi wartawan sesuai dengan ilmu dan keterampilan yang sudah dimiliki. "Dari ujian ini akan terjawab apakah Anda kompeten disebut wartawan," tegas Petrus Suryadi Sutrisno, penguji yang tampak paling 'sangar' dibanding lima penguji lainnya.
Selama dua hari, kami pun diuji sesuai dengan golongan masing-masing, yakni wartawan muda, wartawan madya, dan wartawan utama. Saya ikut dalam gerbong madya. Ada sekitar tujuh bahan uji yang harus saya jalani. Pada hari pertama adalah mengenai keaktifan dalam rapat redaksi, dan ujian membuat wishlist liputan. Karena pada saat rapat redaksi saya mengusulkan liputan mengenai update kasus rekening gendut miik Aiptu Labora Sitorus, maka wishlist yang saya buat juga tentang hal yang sama.
Pada hari kedua ada lima ujian yang harus saya ikuti. Yang pertama adalah mengenai penulisan feature. Saya diminta untuk membuat feature mengenai apa tanggapan masyarakat mengenai kasus Aiptu Labora Sitorus dengan mewawancarai satpam di Metro TV. Kemudian, ujian kedua adalah membuat liputan investigasi yang harus sangat lengkap, mulai tim yang berangkat, biaya, lokasi liputan, narasumber, dan sebagainya. Ujian ketiga adalah menyunting naskah. Saya diminta memilih salah satu guntingan berita di koran dan menyunting naskahnya.
Kemudian ujian keempat adalah jejaring dan lobi. Saya diminta untuk menulis sepuluh narasumber berikut nomor kontak mereka yang bisa dimintai komentar tentang Aiptu Labora Sitorus. Saya beruntung, karena tema yang saya pilih cukup akrab bagi saya sehingga hampir seluruh narasumber yang saya tulis, ada di kontak telepon saya. Saya kemudian diminta untuk menelepon salah satu nama yang ditunjuk penguji secara acak dan mengaktifkan speaker agar ia juga mendengarkan pembicaraan kami. Saya tidak kesulitan melalui ujian ini karena rupanya nama yang dipilih penguji, masih menyimpan nomor telepon saya. Kami pun terlibat pembicaraan yang saat akrab dan santai.
Ujian terakhir adalah mengenai evaluasi rapat redaksi. Yang dinilai di sini kembali mengenai keaktifan dalam rapat. Celakanya, nilai dari peserta kelompok wartawan utama harus dikurangi karena dianggap terlalu mendominasi rapat. Seharusnya kesempatan lebih banyak diberikan bagi kelompok madya dan muda.
Menjelang jam tujuh malam, Uji Kompetensi Wartawan ditutup setelah dua peserta mewakili memberikan kesan dan pesan. Kami pun dinyatakan lulus semua. Artinya, kami sudah sah menyandang predikat sebagai wartawan yang kompeten. Alhamdulillah…
Pada hari yang lain, tim penyusun menghadap pemilik Jawa Pos, Dahlan Iskan. Tanggapan wartawan yang kini menjadi Menteri BUMN tersebut tidak kalah mengejutkan. "Biarkan saya bicara dengannya selama sepuluh menit, maka saya bisa memastikan apakah orang tersebut mampu menjadi wartawan atau tidak."
Orang ketiga yang ditemui adalah Jakob Oetama, pemilik Kompas Gramedia. Nah, masukan dari wartawan yang kini masih menjabat Pemimpun Umum Kompas pada usia 82 tahun itu, juga di luar perkiraan tim penyusun Uji Kompetensi Wartawan. “Saya bisa mengetahui seseorang punya bakat menjadi wartawan hanya dari riwayat hidup yang ia tulis,” kata Jakob.
Terakhir, tim penyusun mendatangi Surya Paloh. Komentar Pemilik Media Group tersebut tidak kalah menarik. "Saya bukan wartawan. Tapi, kalau diminta untuk mencari wartawan, saya jagonya," kata pemilik Metro TV dan Media Indonesia itu.
Priyambodo, Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), menceritakan kisah-kisah di atas dalam pembukaan Uji Kompetensi Wartawan di Metro TV, akhir pekan lalu. Ada sekitar 25 wartawan yang ikut, termasuk saya. Selain beberapa wartawan dari Metro TV, ada sejumlah wartawan lain dari Media Indonesia, Lampung Post, Metrotvnews.com, dan dua perwakilan dari koran Salam Papua, yang ikut dalam uji kompetensi ini.”Keempat tokoh pers tersebut kami datangi untuk meminta masukan mengenai Uji Kompetensi Wartawan, ketika baru dalam tahap perumusan,” kata Priyambodo, alumni International Institute for Journalism (IIJ), Berlin, Jerman (1995) yang sejak 1990 menjadi wartawan Kantor Berita ANTARA.
Uji Kompetensi Wartawan berlangsung selama dua hari, dari pagi sampai malam. Sejak awal, para penguji yang terdiri dari enam wartawan senior, menekankan kalau acara ini bukan pelatihan, ajang diskusi, atau simulasi. Ini adalah ujian bagi kami untuk mengetahui apakah memang mampu menjadi wartawan sesuai dengan ilmu dan keterampilan yang sudah dimiliki. "Dari ujian ini akan terjawab apakah Anda kompeten disebut wartawan," tegas Petrus Suryadi Sutrisno, penguji yang tampak paling 'sangar' dibanding lima penguji lainnya.
Selama dua hari, kami pun diuji sesuai dengan golongan masing-masing, yakni wartawan muda, wartawan madya, dan wartawan utama. Saya ikut dalam gerbong madya. Ada sekitar tujuh bahan uji yang harus saya jalani. Pada hari pertama adalah mengenai keaktifan dalam rapat redaksi, dan ujian membuat wishlist liputan. Karena pada saat rapat redaksi saya mengusulkan liputan mengenai update kasus rekening gendut miik Aiptu Labora Sitorus, maka wishlist yang saya buat juga tentang hal yang sama.
Pada hari kedua ada lima ujian yang harus saya ikuti. Yang pertama adalah mengenai penulisan feature. Saya diminta untuk membuat feature mengenai apa tanggapan masyarakat mengenai kasus Aiptu Labora Sitorus dengan mewawancarai satpam di Metro TV. Kemudian, ujian kedua adalah membuat liputan investigasi yang harus sangat lengkap, mulai tim yang berangkat, biaya, lokasi liputan, narasumber, dan sebagainya. Ujian ketiga adalah menyunting naskah. Saya diminta memilih salah satu guntingan berita di koran dan menyunting naskahnya.
Kemudian ujian keempat adalah jejaring dan lobi. Saya diminta untuk menulis sepuluh narasumber berikut nomor kontak mereka yang bisa dimintai komentar tentang Aiptu Labora Sitorus. Saya beruntung, karena tema yang saya pilih cukup akrab bagi saya sehingga hampir seluruh narasumber yang saya tulis, ada di kontak telepon saya. Saya kemudian diminta untuk menelepon salah satu nama yang ditunjuk penguji secara acak dan mengaktifkan speaker agar ia juga mendengarkan pembicaraan kami. Saya tidak kesulitan melalui ujian ini karena rupanya nama yang dipilih penguji, masih menyimpan nomor telepon saya. Kami pun terlibat pembicaraan yang saat akrab dan santai.
Ujian terakhir adalah mengenai evaluasi rapat redaksi. Yang dinilai di sini kembali mengenai keaktifan dalam rapat. Celakanya, nilai dari peserta kelompok wartawan utama harus dikurangi karena dianggap terlalu mendominasi rapat. Seharusnya kesempatan lebih banyak diberikan bagi kelompok madya dan muda.
Menjelang jam tujuh malam, Uji Kompetensi Wartawan ditutup setelah dua peserta mewakili memberikan kesan dan pesan. Kami pun dinyatakan lulus semua. Artinya, kami sudah sah menyandang predikat sebagai wartawan yang kompeten. Alhamdulillah…
Senin, 10 Maret 2014
Telepon dari Jayapura
Belum sampai satu jam saya tiba di rumah. Tubuh ini pun baru beberapa saat saja direbahkan di atas tempat tidur. Sedangkan di layar TV yang ada di salah satu pojok kamar, sedang muncul tayangan program Realitas dari stasiun Metro TV yang membahas mengenai kasus pembunuhan Siska Yovie. Ketika saya sedang menikmati tayangan itu, tiba-tiba telepon genggam berbunyi. Sebuah nama muncul di layarnya; Robert Sihombing. Saya pun segera ‘mengangkat’ telepon dan menyapa Robert yang menelepon dari Jayapura, Papua.
Hampir setengah jam kami larut dalam sejumlah pembicaraan. Kalau di Jakarta saja sudah jam sebelas malam lewat beberapa menit, maka pada saat yang sama, sudah jam dua dinihari lewat beberapa menit di Jayapura. Tapi, sepertinya suara Bang Robert, demikian Robert Sihombing biasa saya panggil, masih sangat bersemangat. “Saya di sini sedang menonton Realitas. Itu program Lae kan?’’ kata Bang Robert yang memang selalu memanggil ‘lae’ kepada saya, merujuk pada sebuah sapaan dari masyarakat Batak di Sumatera Utara.
Saya dan Robert Sihombing sudah saling kenal sejak akhir 2007. Kami berkenalan ketika saya sedang membuat sebuah liputan mengenai AIDS di Papua. Robert adalah salah satu narasumber utama saya dalam peliputan itu. Saya sudah lupa bagaimana awalnya kami berkenalan. Yang pasti, liputan saya soal dahsyatnya wabah AIDS di Papua tidak akan sukses tanpa bantuan Robert yang juga seorang guru di Jayapura itu.
Rabu, 12 Januari 2011
Minggu, 13 Juni 2010
Pecah Rekor
Akhirnya pecah juga rekor yang selama ini kukejar, setelah beberapa pencapaian di beberapa hal berhasil ku raih kini satu hal yang cukup ku harapkan berhasil ku raih...., ya, selama ini kuberharap bisa naik podium pada salah satu festifal sebelum lulus kuliah, matur nuwun gusti.....
ayoooo...., kita raih beberapa prestasi lagi, GEMASTIK menunggu bro !!!
Langganan:
Postingan (Atom)
