Senin, 10 Maret 2014
Telepon dari Jayapura
Belum sampai satu jam saya tiba di rumah. Tubuh ini pun baru beberapa saat saja direbahkan di atas tempat tidur. Sedangkan di layar TV yang ada di salah satu pojok kamar, sedang muncul tayangan program Realitas dari stasiun Metro TV yang membahas mengenai kasus pembunuhan Siska Yovie. Ketika saya sedang menikmati tayangan itu, tiba-tiba telepon genggam berbunyi. Sebuah nama muncul di layarnya; Robert Sihombing. Saya pun segera ‘mengangkat’ telepon dan menyapa Robert yang menelepon dari Jayapura, Papua.
Hampir setengah jam kami larut dalam sejumlah pembicaraan. Kalau di Jakarta saja sudah jam sebelas malam lewat beberapa menit, maka pada saat yang sama, sudah jam dua dinihari lewat beberapa menit di Jayapura. Tapi, sepertinya suara Bang Robert, demikian Robert Sihombing biasa saya panggil, masih sangat bersemangat. “Saya di sini sedang menonton Realitas. Itu program Lae kan?’’ kata Bang Robert yang memang selalu memanggil ‘lae’ kepada saya, merujuk pada sebuah sapaan dari masyarakat Batak di Sumatera Utara.
Saya dan Robert Sihombing sudah saling kenal sejak akhir 2007. Kami berkenalan ketika saya sedang membuat sebuah liputan mengenai AIDS di Papua. Robert adalah salah satu narasumber utama saya dalam peliputan itu. Saya sudah lupa bagaimana awalnya kami berkenalan. Yang pasti, liputan saya soal dahsyatnya wabah AIDS di Papua tidak akan sukses tanpa bantuan Robert yang juga seorang guru di Jayapura itu.
Langganan:
Postingan (Atom)